Setiap kali saya bertemu dengan mentor spiritual saya, dan bersyukur kepada beliau atas pertemuan ini, beliau selalu meminta saya untuk bersyukur kepada higher-self saya. Menurut beliau, orang-orang bisa bertemu karena sudah diatur dan dirancang oleh yang diatas, oleh higher-selfnya masing-masing. Itulah yang orang Indonesia biasa sebut "jodoh". Kan kalau jodoh tidak kemana-mana. Jadi, walaupun emang agak terulang-ulang, pertemuan kita dengan siapapun tidak ada yang kebetulan. In fact, tidak ada yang namanya kebetulan: Semuanya sudah diatur.
Jadi, kita tertinggal dengan satu pertanyaan, mengapakah kita dipertemukan dengan orang tertentu? Mengapa kita bisa bertemu dengan orang itu, mengapa kita bertemu lagi, mengapa ada beberapa orang yang udah rajin-rajin bikin janji, malah ngga bisa ketemu seolah ngga ada jodoh? Disanalah letak kesadaran kita yang tengah diuji. Itulah menurut seorang bijak yang sharing sama saya bedanya kafir dengan orang sadar: Orang kafir ketemu orang ya ketemu aja, ngobrol ya ngobrol saja. Orang bijak, orang sadar, berusaha mencari tahu alasan dibalik pertemuan itu. Lah hidup orang kan singkat, kalau urusannya belum beres dan mesti ketemu lagi, tetapi sudah dipanggil oleh sang Pencipta bagaimana?
Jadi sejak saat itu saya selalu berusaha untuk baca dan bertanya, apakah tujuan dari pertemuan saya dengan orang-orang ini? Jawabannya tidak langsung jelas, tetapi ada beberapa hal yang terlintas di benak saya - untuk mencari tahu siapa yang harus saya pertahankan, dan siapa yang harus saya tinggalkan. Ya, berteman dengan siapapun baik, tetapi tidak semuanya kita harus pertahankan, bukan? Kalau kita mengambil analogi dengan makan-makan di meja buffet, semua makanan bisa kelihatannya enak, tetapi ada yang lebih enak daripada yang lain. Ada yang benar-benar tidak enak, ada yang mantap sekali. Apakah kita harus berusaha untuk mencicipi semua? Ya ada yang maunya begitu. Tetapi, di kali lain, apakah kita akan makan lagi makanan yang sudah jelas-jelas tidak enak? Jawabannya tentu saja tidak, bukan?
Ambil patinya, buang hampasnya. Itulah salah satu dari sedikit peribahasa Melayu yang saya ingat sampai sekarang. Bukan berarti kita maunya yang enak-enak doang, tetapi kita jalani semuanya, kita dengarkan, kita buka, tetapi hanya yang baik saja yang kita simpan. Mungkin tidak ada yang namanya baik atau buruk, tetapi ada yang bermanfaat dan ada yang merusak atau membatasi. Kita tidak bisa merubah hal itu. Kadang-kadang yang bermanfaat pun tidak enak, dan yang merusak itu enak sekali. Yah, kita mesti belajar supaya hidup kita enak, dan berkualitas, untuk merubah yang tidak enak menjadi enak, dan yang enak menjadi enak sekali. Yang merusak/membatasi kita lepas saja.
Bagaimana caranya untuk bisa merubah yang tidak enak menjadi enak, dan enak menjadi enak sekali? Ya mudah saja, pertama kita harus berhenti melarikan diri dan berhenti men-deny hal-hal tersebut. Pahamilah nature hal-hal tersebut, dan terimalah apa adanya. Tiba-tiba semuanya terasa nyaman, dan kita bisa perlahan merubah hal tersebut. Ingat, dengan cara ini kita sudah merubah diri kita terlebih dahulu: dari tidak terima jadi terima, dari menggerutu jadi sabar. Jadi, sebenarnya dengan merubah diri sendiri kita telah merubah dunia.
Yah sharing pengalaman sendiri saya saja. Semalam sebelum saya berangkat pulang dari Amerika untuk liburan musim dingin, saya bermain sled salju dengan teman-teman bulutangkis saya dan terjatuh sehingga tangan kiri saya terkilir. Sakit sekali, sampai pas tidur pun sakit. Teman sekamar saya pun menyalakan lampu saya ketika saya tidur sehingga saya terbangun. Setelah saya mengeluh kepada teman sekamar saya dan mematikan lampunya pun saya masih sakit hati, tidak terima, sehingga saya tidak bisa tidur. Itupun terganggu dengan nyerinya lengan kiri saya. Tiba-tiba saya mendapat sebuah inspirasi pelan dan tenang, hati saya bilang, ya sudah, terima jadi saja dulu. Terima jadi bahwa roommate saya memang tidak begitu considerate, terima jadi bahwa memang lengan kiri saya terkilir jadinya sakit. Api luapan emosi saya langsung padam. Tangan kiri saya masih sakit, tetapi rasanya tidak sesakit tadi. Saya pun melanjutkan tidur dengan tenang.
Yah, saya berhenti menyalahkan siapapun (termasuk diri saya). Saya berhenti berusaha memecahkan masalah, atau mendeny bahwa sedang tidak ada apa apa yang terjadi. Saya cuma terima jadi saja. Saya mengakui, saya sadar, bahwa emang lengan kiri saya sakit, emang hati gue kesel gara2 roommate gue. And it worked like magic.
Sang bijaksana juga pernah sharing bahwa bedanya denial sama ragu-ragu itu tipis. ragu-ragu itu sudah tahu, menerima, tapi belum yakin. denial itu sudah tahu, tapi tidak diterima, ditolak, dan dibuang jauh-jauh. Ya nanti jadinya utang dagang.
Dan izinkan saya menambahkan, terima jadi dan sabar itu BUKAN pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Memang dari luar kelihatannya hanya menunggu, tetapi menunggu dan menerima juga merupakan suatu tindakan. Kalau rumah kita kebakaran terus kita di dalem rumah aja dan menerima jadi kan namanya bunuh diri. Tetapi, kita bijak, kita sadar, kita tenang, dan kita terima, dan lakukan apapun yang kita bisa untuk mengubah keadaan jadi lebih baik dan nyaman. Kita berusaha untuk mengubah yang tidak enak jadi enak, dan yang enak menjadi enak sekali. Menunggu, sabar, dan menerima adalah bagian dari usaha itu. Kalau tidak bisa ngapa-ngapain, ya terima saja, dan jangan ngapa-ngapain. ;)
Rahayu, terima, dan enjoy aja ya:)
Truly Indonesia's Finest,
No comments:
Post a Comment